Malam itu adalah malam yang tidak terlupakan bagi seorang tukang tambal ban yang berada di pinggir jalan MT. Haryono Madiun. Pada malam itu ada seseorang yang lewat di jalan MT. Haryono itu dengan mengendarai mobil sedan Honda Accord silver, kemudian mobil itu berhenti mendadak, ternyata bannya bocor. Sang pengemudi keluar dan mencari tambal ban yang masih buka, karena hari telah malam, waktu itu sudah pukul 01.37 WIB sehingga tidak ada orang yang lewat. Sejurus kemudian dia mendapati sebuah tambal ban, dan dia segera mengetuk pintu agar tukang tambal ban mau membantunya, akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Kemudian dia mencari lagi, sampai di ujung jalan terdapatlah tambal ban yang kelihatan tutup juga, namun ia tidak putus asa, ia coba ketuk pintu, dan Alhamdulillah ada jawaban. Kemudian ia utarakan maksud hatinya, dan si tukang tambal ban itu memahami kesulitannya. Tidak disangka-sangka tukang tambal ban itu, namanya Somad, baru saja bisa tidur, karena semalaman anaknya, “Ani” rewel karena sedang di sapih oleh ibunya. Kemudian Pak Somad mau membantu Pak Ali, pengendara mobil sedan itu. Pak Somad mengambil peralatannya dan dibawa ke tempat mobil Pak Ali berhenti untuk melepaskan ban yang akan ditambal. Ban yang sudah dilepas itu kemudia dibawa ke rumah Pak Somad yang sekaligus menjadi tempat praktinya menambal ban. Pak Somad menambal ban itu dengan cekatan dan sabar walau rasa kantuknya tidak tertahankan lagi. Lima belas menit kemudian ban yang ditambal sudah selesai dan siap dipasang kembali. Pak Somad dan Pak Ali kembali ke mobil dan mereka memasang ban mobil sedan itu dengan cermat. “Alhamdulillah sudah selesai pak, mudah-mudahan tidak bocor lagi”. kata pak Somad. Kemudian Pak Ali menjawab, “Ya Pak terima kasih, berapa Pak ongkosnya?”. Jawab Pak Somad,” 500 saja pak”. Kemudian Pak Ali membayarnya dan mengucapkan terima kasih telah membantu menambal bannya dan berpamitan akan melanjutkan perjalannya ke Surabaya.
Pada lima hari kemudian di depan tempat tambal ban Pak Somad berhenti sebuah mobil sedan silver, kemudian keluarlah seseorang yang berpenampilan rapi dan mengesankan menemui Pak Somad dan menyapanya, “Bapak masih ingat saya?”, Tanya orang tersebut. “Oh ya Pak, masih ingat saya, Bapak kan yang ban mobilnya bocor kemarin malam?” jawab Pak Somad. “Betul Pak, ngomong-ngomong bapak setiap harinya dapat berapa dari tambal ban ini?” “Ya tidak mesti Pak, Kadang-kadang ya lima belas ribu, kalau rame ya bisa tiga puluh sampai lima puluh ribu per hari pak”. Kemudian pak Ali melanjutkan bertanyanya,”Apa yang paling bapak inginkan saat ini dalam hidup?” Pak Somad dengan semangat menjawab,” Saya kepingin sekali bisa haji Pak”. Pak Ali bertanya kembali,” Terus apa yang Bapak usahakan untuk pergi kesana?” dengan nada santai Pak Somad menjawab,” Ya… menabung seadanya Pak, ada lima ribu, sepuluh ribu, bahkan lima ratus perak pun ya saya masukkan ke kaleng tabungan haji”. “Kalau Bapak tidak keberatan saya akan membiayai haji Bapak Somad, karena telah membantu saya kemarin malam. Sebenarnya kemarin itu saya sedang ada pengajuan tender di Surabaya, jika saya terlambat, maka saya tidak jadi mendapatkan tendernya, Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya Pak, dan itu juga atas bantuan Bapak mau menolong saya menambal ban mobil saya yang bocor oleh karena itu saya berniat membiayai semua keperluan haji Bapak”. Pak Somad dengan senangnya melakukan sujud syukur atas karunia yang telah diberikan oleh Allah, dia bisa haji walau hanya bekerja menambal ban. Akhirnya Pak Somad Berangkad Haji bersama-sama dengan Pak Ali dan semua biayanya di tanggung oleh Pak Ali.